Doktrin Angkatan Laut Jepang Pasca Tsushima

 


a.       Sato Tetsutaro

Salah satu tokoh yang sangat berpengaruh dalam kebijakan Angkatan Laut Jepang saat itu adalah Sato Tetsutaro (1866-1942). Ia merupakan otak dari Angkatan Laut Jepang. Karirnya dimulai saat perang Sino-Jepang dan berpengalaman di Pertempuran sungai Yalu di atas kapal Amagi. Sebelumnya, ia pernah menghasilkan tesis mengenai Invasi Jepang ke Korea pada abad ke-16 berjudul kokubo shitetsu (Pandangan pribadi mengenai pertahanan) yang mana menekankan bahwa kekuatan Angkatan Laut lebih penting daripada Angkatan Darat sebagai pertahanan Kekaisaran Jepang (David C. Evans, 1997, hal. 135).

Tahun 1899, Yamamoto Gombei sebagai Laksamana Angkatan Laut mengirim Sato menuju Inggris untuk studi mengenai strategi Angkatan Laut. Sato sepulang dari Inggris langsung menuju ke Amerika Serikat selama 6 bulan untuk riset lalu pulang ke Jepang pada tahun akhir tahun 1901. Setelah kepulangannya, Yamamoto memerintahkan untuk menyusun manifesto untuk mendapatkan dana lebih dari pemerintah pada tahun 1902. Ia menghasilkan tesis berjudul Teikoku kokubo ron (Pertahanan Kekaisaran), menjelaskan mengenai pentingnya mengalahkan musuh yang mengancam Jepang di luar laut teritorial Jepang. Sehingga dalam hal ini, Angkatan Laut harus diprioritaskan. Namun hasil riset tersebut justru menghasilkan kemarahan berbagai pihak dan berimbas pada pemotongan anggaran Angkatan Laut (David C. Evans, 1997, hal. 136-137).

Empat tahun berikutnya, Ia lebih banyak bertugas di laut. Tahun 1906, ia kembali ke Perguruan Tinggi Staff Angkatan Laut sebagai mahasiswa dan kemudian menjadi instruktor pada tahun 1907. Pada saat yang sama, Sato menulis  tesis berjudul Kaibo shi ron (Sejarah Pertahanan Angkatan Laut) dan Teikoku Kokubo shi ron (Sejarah Pertahanan Keikaisaran). Dalam tesisnya, Sato kembali menegaskan pentingnya Angkatan Laut bagi negara kepulauan seperti Jepang. Dalam tesisnya juga, walau  membahas mengenai pertahanan yang bersifat defensif, Sato mendukung Angkatan Laut yang bersifat ofensif sebagai langkah untuk melindungi Jepang. Ia juga merupakan pendukung dari Kantai Kessen yang kemudian menurun ke murid-muridnya yang kemudian menciptakan kegemaran akan “big ship, big guns” atau taikan kyoushoshugi (David C. Evans, 1997, hal. 141). Bagi Sato, ada tiga hal yang perlu dicapai dalam menjaga Kekaisaran Jepang, yaitu keamanan teritori Jepang, keamanan lalu lintas dagang di laut, dan menjaga perdamaian dan kemenangan di setiap perang. Hal itu menurutnya bisa diwujudkan dengan mengutip ide Mahan, command the sea atau Seikaiken (Kenichi, 2002, hal. 97).

Salah satu idenya yang terkenal adalah ide “Angkatan Laut 70 persen”. Dalam hal ini, Sato merumuskan untuk melindungi Jepang dari laut, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang harus memiliki setidaknya 70 persen kekuatan dari “hipotesis musuh”. Sebenarnya strategi ini sudah diterapkan oleh Royal Navy Inggris dengan menetapkan mereka harus memiliki sebuah armada yang setara dengan armada gabungan dari dua kekuatan besar setelah Royal Navy, hal ini untuk mempertahankan pengaruhnya di dunia. Dalam hal menentukan hipotesis musuh, Sato pada mulanya meyakini bahwa Jerman lah yang menjadi ancaman bagi Jepang saat itu. Hal ini mengingat perlombaan Angkatan Laut Anglo-Jerman, kepentingan Jerman di China yang mengancam kepentingan Jepang, dan pengembangan armada Jerman di Asia Timur. Namun pada akhirnya, Sato merubah pikirannya dengan menetapkan Amerika Serikat lah yang menjadi ancaman bagi Jepang saat itu. Walaupun hubungan Jepang-Amerika saat itu baik-baik saja, namun Amerika Serikat yang juga sedang mengembangkan Angkatan Lautnya membuat Sato merasa Amerika Serikat dapat membahayakan kepentingan Jepang dan Jepang itu sendiri. Amerika Serikat sendiri saat itu memiliki wilayah koloni di Filipina. pada tahun 1913, Sato memberikan prediksi kekuatan Angkatan Laut Amerika Serikat pada tahun 1920 yaitu mencapai 60 kapal utama, dengan perkiraan 35 kapal model Dreadnougth yang merupakan kapal tempur paling modern saat itu.

b.      Kantai Kessen

Tak dapat dipungkiri lagi, kemenangan gemilang Jepang di Pertempuran Tsushima membuat Jepang terbawa akan hawa kemenangan yang kuat. Kemenangan mutlak Jepang di Tsushima menandakan kemenangan Jepang atas Rusia yang memiliki kekuatan lebih besar serta mematahkan legenda bahwa bangsa Eropa tak terkalahkan bagi bangsa Asia. Hal ini kemudian menjadikan Jepang terobsesi dengan doktrin Kantai Kessen (Pertarungan penentu) yang terbukti sukses di Tsushima. Hal ini menjadikan Kantai Kessen menjadi doktrin dan sebagai garis besar strategi yang justru akan melemahkan Jepang kedepannya (David C. Evans, 1997, hal. 132).

Kantai Kessen merupakan doktrin Angkatan Laut Kekaisaran Jepang pada masa itu. Kantai Kessen atau “Pertempuran Penentu di Laut” diambil dari pengalaman Jepang melawan Rusia di Tsushima. Doktrin ini menekankan pada sangat penting untuk mengalahkan musuh di luar laut teritorial Jepang. Untuk memenangkan perang, Jepang harus bisa memberikan satu pukulan telak kepada musuh dalam satu pertempuran. Tentu doktrin ini menghindari peperangan jangka panjang, menyesuaikan dengan kekuatan Jepang yang mana masih inferior dibanding kekuatan negara lain. Mengingat pada pertempuran Tsushima, armada Rusia lebih superior dalam hal kuantitas daripada Jepang. Namun, Jepang dapat mengalahkannya dengan kekuatan dan akurasi meriam kapal tempur yang akhirnya berhasil mengakhiri pertempuran maupun peperangan. Jepang berfikir bahwa konfrontasi kelak juga akan didasari oleh kekuatan kapal tempur (Stille, The Imperial Japanese Navy in the Pacific War, 2014, hal. 12)

Keefektifan kapal tempur pada pertempuran Tsushima juga memengaruhi pengembangan kekuatan Angkatan Laut Jepang kedepannya. Jepang lebih berfokus dengan kapal tempur karena kapal tempur memiliki kekuatan dan ketahanan luar biasa yang dibutuhkan dalam doktrin Kantai Kessen. Kegemaran ini disebut dengan taikan kyoushoshugi atau big ship, big gun. Dari dasar ini, Jepang memulai pengembangan Angkatan Lautnya dalam usaha memenuhi “Angkatan Laut 70 persen” gagasan Sato Tetsutaro. Kegemaran akan kapal tempur pun sebenarnya sedang melanda Angkatan Laut dunia. Hal ini didasari dengan munculnya HMS Dreadnought yang merupakan kapal tempur paling modern pada tahun 1906 (David C. Evans, 1997, hal. 152).

c.       Hachihachi Kantai

Dari program “Angkatan Laut 70 persen” oleh Sato Tetsutaro dan doktrin Kantai kessen, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang mulai mengembangkan kekuatan mereka dengan berfokus pada kapal tempur dan kapal penjelajah tempur. Hal ini tidak lepas dengan munculnya kapal tempur HMS Dreadnought dan kapal penjelajah tempur HMS Invicible yang kemudian merubah wajah Angkatan Laut Royal Navy dan dunia saat itu. Inggris, Jerman, Amerika Serikat, dan Jepang jatuh pada perlombaan senjata Angkatan Laut dengan membangun kapal serupa dengan Dreadnought dan Invicible (David C. Evans, 1997, hal. 152-153).

Pada tahun-tahun sebelumnya, Jepang yang sudah dapat membangun kapal mereka sendiri di Kure dan Yokosuka, membangun kapal penjelajah berpelindung Tsukuba dan Ikoma pada tahun 1905-1906. Dilanjutkan dengan pembangunan versi pengembangan dari Tsukuba, yaitu Kurama dan Ibuki. Namun keduanya dibangun tanpa memperhatikan model baru dari Invicible. Dan pada tahun 1909-1912, Jepang mampu membangun kapal tempur Dreadnought mereka, Settsu dan Kawachi.

Pada tahun 1910, Angkatan Laut berambisi untuk merealisasikan ambisi Hachihachi Kantai mereka pada sekali proses. Hachihachi Kantai merupakan program ambisius Angkatan Laut Kekaisran Jepang untuk membangun delapan kapal tempur dan delapan kapal penjelajah berpelindung (atau di kemudian hari berubah menjadi penjelajah tempur). Angkatan Laut meminta kementrian untuk menyiapkan dana bagi program ambisius mereka. Namun karena dirasa biaya yang dikeluarkan akan terlalu besar, maka dari pihak Angkatan Laut terpaksa untuk mengurangi proposal mereka menjadi tujuh kapal tempur dan tiga kapal penjelajah berpelindung. Namun dari kementrian hanya menyetujui satu kapal tempur dan empat kapal penjelajah berpelindung. Dana cair pada tahun 1911 (David C. Evans, 1997, hal. 160).

Dalam memanfaatkan dana ini, Angkatan Laut sebelumnya telah merancang kapal penjelajah berpelindung (kapal penjelajah tempur). Mereka merancang desain ini berdasarkan pengembangan dari desain kapal penjelajah tempur HMS Invicible. Hingga akhirnya tercipta desain pengembangan Invicible, yaitu Kongou. Dalam pembangunannya, Jepang bekerja sama dengan Inggris, tepatnya pada perusahaan Vickers. Namun dalam perkembangannya, Jepang mengetahui bahwa Royal Navy sudah jauh lebih dahulu mengembangkan kapal penjelajah tempur mereka dengan munculnya HMS Lion. Jepang segera merombak desain Kongou dengan meminta dari pihak Vickers untuk merancang versi pengembangan dari HMS Lion. Akhirnya desain disetujui oleh pihak Jepang dan kontrak ditandatangani pada 17 Oktober 1910. Kongou diluncurkan pada 18 Mei 1912 dan menjadi kapal penjelajah tempur paling modern saat itu, dan menjadi kapal tempur terakhir yang dibangun di luar Jepang. Setelahnya Jepang mampu membangun kapal mereka secara mandiri (Chihaya Masataka, Yasuo Abe, 1971, hal. 265-267). Tiga kapal saudari Kongou kemudian dibangun dengan dana yang sama. Hiei (dibangun di Yokosuka, selesai tahun 1914), Kirishima (dibangun di galangan kapal Mitsubishi di Nagasaki, selesai tahun 1915), dan Haruna (dibangun di galangan kapal Kawasaki di Kobe, selesai pada tahun 1915), melengkapi untuk rencana pembangunan empat kapal penjelajah tempur (Hansgerog Jentschurra, 1977, hal. 31).

 Dengan dana yang sama, Jepang segera membangun kapal tempur Fusou di galangan kapal Kure. Fusou mulai dibangun pada tahun 1912 dan selesai pada tahun 1915. Dibangun untuk menandingi kapal tempur Amerika Serikat, USS Texas dan USS New York, Fusou dibangun dengan dasar dari desain Kongou dan dengan pengembangan dari rivalnya, Fusou dipersenjatai dengan 12 meriam kaliber 14 inchi dan dengan ukuran yang lebih besar dari rivalnya serta kecepatan mencapai 23 knot, menjadikan Fusou menjadi kapal tempur paling besar dan paling kuat saat itu. Dilanjutkan pada tahun 1913, Angkatan Laut mengajukan proposal dana lagi kepada pemerintah untuk penambahan tiga kapal tempur.  Proposal disetujui dan Angkatan Laut memulai pembangunan adik dari Fusou, Yamashiro¸ yang selesai pada tahun 1915. Dan dengan adanya dana untuk 2 kapal tempur lagi, Angkatan Laut membangun kapal tempur Ise di galangan kapal Kawasaki di Kobe dan Hyuga di galangan kapal Mitsubishi di Nagasaki. Keduanya selesai antara tahun 1917-1918 sebagai pengembangan dari model kapal tempur Fusou dan Yamashiro.

Pada perang dunia pertama, Shimamura Hayao menjadi staf umum Angkatan Laut dan Kato Tomosaburo menjadi menteri Angkatan Laut. Dalam perkembangannya, ambisi Hachihachi Kantai mulai diangkat lagi. Dengan sudah adanya 1 kapal tempur Fusou dan empat kapal penjelajah tempur Kongou, Hiei, Haruna, dan Kirishima, dan juga dengan pembangunan 3 kapal tempur Yamashiro, Ise, Hyuga, yang masih dalam proses pembangunan. Angkatan Laut mengajukan proposal dana untuk sisa empat kapal tempur dalam mewujudkan Hachihachi Kantai. Namun ditolak karena pada saat itu kepercayaan kepada Angkatan Laut sedang menurun karena adanya skandal pembelian. Namun pada tahun 1916, pemerintah menurunkan dana kepada Angkatan Laut untuk pembangunan satu kapal tempur dan 2 kapal penjelajah tempur. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi di Amerika Serikat, yang mana pemerintah Amerika Serikat menyetujui pengajuan proposal dana pembangunan 156 kapal perang, termasuk 10 kapal tempur dan 6 kapal penjelajah tempur. Menyikapi hal ini, pemerintah Jepang akhirnya mengucurkan dana untuk pembangunan 63 kapal perang, termasuk 3 kapal tempur dan 10 kapal penjelajah (penjelajah ringan maupun penjelajah berat) pada tahun 1917. Kemudian pada tahun 1918, pemerintah Jepang kembali mengucurkan dana untuk pembangunan sisa dua kapal penjelajah tempur. Hal ini menjadikan ambisi Hachihachi Kantai sudah di depan mata (David C. Evans, 1997, hal. 161-167).

d.      Hiraga Yuzuru dan penyelesaian ambisi Hachihachi Kantai

Dalam penyelesaian ambisi Hachihachi Kantai, sisa dari kapal tempur dan kapal penjelajah tempur untuk penyelesaian ambisi ini dikerjakan oleh Hiraga Yuzuru. Ia merupakan insinyur perkapalan lulusan Universitas Tokyo. Ia memulai pekerjaannya pada pengerjaan Yamashiro pada tahun 1912, dan menjadi ketua insinyur untuk pembangunan ambisi Hachihachi Kantai. Ia kemudian mendesain kapal tempur Nagato dan Mutsu yang mulai dibangun pada tahun 1917 dan 1918 dengan dana dari pencairan dana tahun 1916-1917. Keduanya di desain beberapa bulan sebelum pertempuran Jutland, salah satu pertempuran kapal tempur terbesar yang pernah terjadi. Setelah berita mengenai Jutland sampai ke Jepang, Hiraga segera membenahi desainnya dengan mengubah kecepatan kapal maksimal 26,5 knot dan meriam 16 inchi untuk menandingi kapal tempur Inggris kelas Queen Elizabeth.

Selanjutnya, Hiraga kembali mendesain kapal tempur kelas Tosa, yaitu Tosa dan Kaga pada tahun 1917. Direncanakan Tosa dan Kaga akan memiliki 10 meriam 16 inchi. Pada tahun 1919, Hiraga kembali mendesain kapal penjelajah tempur Amagi dan Akagi. Direncanakan Amagi dan Akagi juga akan mempunyai 10 meriam 16 inchi dengan kecepatan maksimal 30 knot untuk menandingi HMS Hood dan proyek kapal penjelajah tempur USS Saratoga.

Amerika Serikat yang juga sedang mengembangkan kekuatan Angkatan Lautnya membuat Jepang juga berusaha untuk mengembangkan kekuatan Angkatan Laut demi mengimbangi Amerika Serikat. Angkatan Laut Kekaisaran Jepang bahkan merencanakan hal yang lebih jauh dari Hachihachi Kantai, yaitu tiga armada tempur dengan masing-masing delapan kapal tempur dan kapal penjelajah tempur. Namun hal tersebut ditolak mengingat dana yang akan dikeluarkan akan terlalu besar untuk menciptakan proyek ambisius tersebut. Walau begitu, Hiraga tetap mendesain kapal penjelajah tempur Atago dan Takao sebagai adik dari Amagi dan Akagi (David C. Evans, 1997, hal. 171-174).

Pada akhirnya, pada tahun 1920, Pemerintah Jepang menyetujui pengembangan Angkatan Laut dengan rencana seluruh pembangunan akan selesai pada tahun 1927. Dengan kekuatan empat kapal penjelajah tempur kelas Amagi dengan masing-masing dipersenjatai 10 meriam 16 inchi, dan empat kapal tempur kelas Tosa dengan dipersenjatai 10 meriam 18 inchi. Namun pada kelanjutannya, rencana super ambisius tersebut gagal karena Jepang memutuskan untuk bergabung dalam Traktat Angkatan Laut Washington pada tahun 1922.

e.       Traktat Angkatan Laut Washington

Dunia yang dilanda perlombaan senjata pasca perang dunia pertama menjadikan ketakutan akan munculnya konflik besar kembali. Oleh karena itu, kekuatan besar saat itu merancang sebuah pembatasan untuk membatasi jalannya perlombaan senjata Angkatan Laut. Akhirnya kekuatan besar dunia memutuskan untuk mengadakan traktat untuk membatasi kekuatan mereka di Washington.

November 1922, Charles Evans Hughens membuka Traktat Angkatan Laut Washington. Traktat ini secara efektif membatasi perlombaan big ships, big guns selama 14 tahun kemudian. Pertemuan yang diadakan pada tahun 1922 oleh Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Italia, dan Perancis. Isi dari traktat tersebut antara lain membatasi tonase total kapal utama dari negara peserta. Amerika Serikat dan Inggris mendapatkan jatah total tonase sebesar 525.000 ton, Jepang mendapat jatah total tonase 315.000 ton, Italia dan Perancis mendapat jatah total tonase 175.000 ton (rasio 5:5:3:1:1). Traktat ini juga membatasi pengunaan meriam pada kapal tempur dengan pelarangan penggunaan meriam kaliber mulai dari 16 inchi ke atas. Traktat ini juga membatasi pembangunan kapal induk dengan maksimal berat 27.000 ton dan maksimal jumlah meriam sepuluh dengan kaliber maksimal 8 inchi. Untuk kapal jenis lain hanya dibatasi tonase maksimal 10.000 ton dan meriam maksimal 8 inchi. Pembangunan kapal tempur pun ditunda selama 10 tahun setelah pengesahan dengan catatan kapal yang tidak memenuhi syarat harus diubah atau dihentikan pembangunannya (Stille, The Imperial Japanese Navy in the Pacific War, 2014, hal. 12-13). Satu masalah muncul bagi Jepang, yaitu menyangkut kapal tempur Mutsu yang baru bertugas beberapa bulan sebelum traktat disetujui yang menurut proposal Hughens harus dibesituakan. Ditambah pembangunan Mutsu menggunakan dana dari antusias masyarakat Jepang, terutama dari sekolah anak-anak. Walau akhirnya Jepang diperbolehkan untuk tetap memiliki Mutsu (David C. Evans, 1997, hal. 196-197).

Banyak dari kalangan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang tak menyukai keputusan traktat tersebut. Usaha mereka untuk mewujudkan Hachihachi Kantai dalam waktu yang lama langsung kandas begitu Jepang memutuskan untuk ikut dalam traktat tersebut. Sebagai hasilnya, beberapa kapal yang sudah dalam proses pembangunan seperti Amagi dan Akagi akhirnya diubah menjadi kapal induk. Walau begitu, agak susah untuk menyesuaikan beban tonase awal rencana keduanya dari 47.000 ton menjadi 27.000 ton sesuai batas beban tonase kapal induk dalam traktat. Amerika Serikat juga mengalami kesulitan yang sama dalam mengubah pembangunan kapal penjelajah tempur kelas Lexington menjadi kapal induk. akhirnya diputuskan beban tonase maksimal dari kapal induk bertambah menjadi 33.000 ton. Jepang yang juga sedang membangun dua sisa kapal penjelajah tempur kelas Amagi, yaitu Atago dan Takao, serta 2 kapal tempur cepat (penggantian penyebutan bagi kapal penjelajah tempur bagi Jepang) kelas Kii hasil desain rancangan Hiraga, terpaksa dibatalkan (David C. Evans, 1997, hal. 197). Penyelesaian Kaga juga tersendat. Proses konversi kelas Amagi ke kapal induk pun mengalami kendala karena bencana gempa besar Kanto pada bulan September 1923, mengakibatkan lambung kapal Amagi di galangan kapal rusak berat hingga terpaksa dibesituakan. Sebagai gantinya, Kaga kemudian menggantikan Amagi dalam konversi kapal induk (Gardiner Robert, 1985, hal. 232). Tosa sendiri akhirnya berakhir sebagai kapal target pada tahun 1925.

f.        Traktat Angkatan Laut London dan keluarnya Jepang dari segala perjanjian

Sebagai akibat dari Traktat Angkatan Laut Washington, banyak negara akhirnya membatalkan atau mengubah kapal tempur yang sudah mereka bangun menjadi kapal induk. Termasuk Jepang yang mengubah beberapa kapal tempur dan penjelajah tempurnya menjadi kapal induk. Namun dalam traktat ini, pembangunan selain kapal induk dan kapal tempur hanya dibatasi pada jumlah tonase maksimal 10.000 ton dan kaliber meriam maksimal 8 inchi (Stille, The Imperial Japanese Navy in the Pacific War, 2014, hal. 13). Hal ini membuat Jepang kemudian berfokus pada pembangunan kapal penjelajah ringan maupun berat dan kapal penghancur.

Celah ini kemudian ditutup oleh konferensi Angkatan Laut London pada tahun 1930 untuk mengurangi tensi perlombaan senjata Angkatan Laut. Hal ini diakibatkan banyak juga negara lain yang kemudian memindahkan fokusnya menuju kapal penjelajah maupun kapal penghancur. Jepang berbeda dengan masa konferensi Washington, Jepang memberikan interupsi pada rencana penjatahan bagi Jepang karena Jepang perlu menjaga persentase 70% bagi kapal perang lain untuk menjaga pertahanan nasional. Pada akhirnya Jepang dipaksa menerima penjatahan 60% dari Inggris dan Amerika Serikat dengan alokasi bobot maksimal untuk kapal penjelajah berat sebesar 108.400 ton dan 70% bagi kapal penjelajah ringan dengan alokasi bobot maksimal 100.450 ton dan kapal penghancur 105.500 ton. Sedangkan untuk kapal selam setara dengan negara-negara lain dengan alokasi bobot maksimal 52.700 ton (Stille, The Imperial Japanese Navy in the Pacific War, 2014, hal. 13).

Karena dirasa Traktat ini gagal, maka diadakan konferensi kedua di London pada tahun 1934. Jepang diwakili oleh Isoroku Yamamoto. Setelah berbagai perdebatan, akhirnya Jepang memutuskan untuk menolak perjanjian ini pada Desember 1934. Kemudian diadakan konferensi lagi pada 1935 dan Jepang diwakili oleh Osami Nagano yang menjelaskan kembali posisi Jepang saat itu yang mengingat Jepang sedang mengalami konflik dengan China sejak awal tahun 1930-an. Akhirnya Jepang memutuskan untuk menarik delegasinya pada Januari 1936. Jepang juga memutuskan untuk keluar dari Traktat Angkatan Laut Washington yang akhirnya efektif berakhir pada tahun 1937 dan memulai perlombaan senjata kembali (David C. Evans, 1997, hal. 296-298).  Jepang kemudian memulai perlombaan senjata Angkatan Laut dengan Amerika Serikat dan memulai program pembangunan Angkatan Laut berkala dengan pembangunan kapal penghancur, kapal penjelajah, kapal induk, kapal tempur, dan berbagai jenis kapal perang lainnya. Pada program ini kemudian muncul dua kapal tempur “monster” yaitu Yamato dan Musashi (Stille, The Imperial Japanese Navy in the Pacific War, 2014, hal. 13).

g.      Pembangunan kapal tempur kelas Yamato

Setelah lepas dari traktat Angkatan Laut Washington, Jepang segera memulai pembangunan kekuatan Angkatan Laut mereka. Mengingat traktat ini efektif berakhir pada tahun 1937, membuat berbagai negara dengan kekuatan industri yang kuat seperti Amerika Serikat juga mulai memperkuat Angkatan Laut mereka kembali. Ditambah hubungan Amerika Serikat dan Jepang semakin memanas dengan tenggelamnya USS Panay oleh Jepang di sungai Yangtze pada bulan Desember 1937 (David C. Evans, 1997, hal. 353-354).

Untuk program Jepang sendiri, mereka membangun kekuatan Angkatan Lautnya dengan program pembangunan berjangka yang dinamakan “Program Lingkaran”. Sebenarnya program ini sudah berlangsung sejak awal traktat Angkatan Laut London, dan sudah berlangsung dua sesi, yaitu Lingkaran I atau maru ichi keikaku dan Lingkaran II atau maru ni keikaku. Keduanya berfokus pada pembangunan kapal penjelajah dan kapal penghancur. Kemudian Lingkaran III atau maru san keikaku dimulai pada tahun 1937. Pada sesi ini, Jepang membangun kapal tempur “monster”, yaitu Yamato dan Musashi (Stille, The Imperial Japanese Navy in the Pacific War, 2014, hal. 14).

Pembangunan kapal tempur super ini berdasarkan kenyataan bahwa Jepang tak mungkin mampu menandingi kecepatan kekuatan industri Amerika Serikat. Hal ini mengakibatkan Jepang kemudian berlomba untuk meningkatkan kualitas dibandingkan kuantitas dari kekuatan mereka (David C. Evans, 1997, hal. 356-357). Hal ini tercermin dari Yamato dan Musashi. Dibangun dengan penuh kerahasiaan, Yamato dan Musashi untuk memiliki meriam kaliber 18 inchi yang mana menjadi meriam dengan kaliber terbesar yang pernah terpasang di kapal tempur. Ada sekitar 24 desain yang masuk, desain dengan nomor A-140-F5 rancangan Fukuda Keiji ditetapkan sebagai desain final pada 20 Juli 1936 dan pada tanggal 25 November 1936 dirancang proposal rahasia pembangunan kapal tempur super ini. Pembangunan dilakukan di galangan kapal Kure untuk Yamato dan galangan kapal Mitsubishi di Nagasaki untuk Musashi. Pembangunan Yamato dimulai pada 4 November 1937 dan pembangunan Musashi dimulai pada 29 Maret 1938. Yamato diluncurkan pada 8 Agustus 1940 dan Musashi diluncurkan pada 1 November 1940. Yamato selesai pada 16 Desember 1941 dan Musashi selesai pada 5 Agustus 1941. (Hans Lengerer, 2014).

Selanjutnya, pada maru yo keikaku, direncanakan akan mulai dibangun dua kapal lagi sebagai pelengkap dari kapal tempur kelas Yamato. Yang pertama adalah Shinano, yang dibangun di galangan kapal Yokosuka. Mulai dibangun pada 4 Mei 1940, desain Shinano merupakan pengembangan dari desain Yamato sebelumnya. Namun akibat dari kekalahan telak Jepang di Midway, membuat Shinano kemudian dikonversi menjadi kapal induk. Yang kedua adalah kapal perang nomer 111 yang belum diberi nama yang mulai dibangun pada bulan Agustus 1940 setelah Yamato diluncurkan. Namun karena pecahnya perang dan kekurangan bahan pembangunan, maka pada tahun 1942 pembangunan nomor 111 dihentikan setelah 30%. Kemudian bagian-bagiannya diambil untuk memodifikasi kapal tempur Ise dan Hyuga menjadi kapal tempur induk (Ian Johnston, 2000, hal. 124).

h.      Doktrin kapal tempur

Dalam doktrin Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, kapal tempur merupakan ujung tombak dari setiap pertempuran laut. Tugas dari kapal tempur adalah memberikan pukulan telak pada armada musuh, sedangkan kapal lain seperti kapal penghnacur, kapal penjelajah, dan kapal induk bertugas sebagai pembantu dalam menyelesaikan pertempuran. Tugas mereka adalah meluncurkan torpedo dan bom untuk mengalahkan kapal musuh yang masih tersisa setelah serangan dari kapal tempur selesai. Hal ini membuktikan bahwa Jepang masih terpengaruh akan pertempuran Tsushima dalam pembentukan doktrin dan taktik Angkatan Laut mereka. Hal ini berdasarkan revisi Instruksi Pertempuran tahun 1934.

Adapun taktik yang Jepang gunakan adalah dengan menggunakan formasi lurus atau line-ahead yang mana bertujuan untuk memperoleh posisi crossing T terhadap musuh sehingga armada Jepang mampu memberikan serangan telak bagi musuh dengan seluruh meriam kapal tempur. Estimasi Jepang untuk jumlah kapal tempur untuk strategi ini adalah 16 kapal yang kemudian bisa dibagi menjadi dua sentai atau divisi yang terdiri dari 8 kapal. Jepang sendiri memiliki Sentai 1 berisi Nagato dan Mutsu, Sentai 2 berisi Fusou, Yamashiro, Ise, dan Hyuga, dan armada depan berisi Kongou, Hiei, Haruna, dan Kirishima yang bertugas membukakan jalan bagi kapal penjelajah dan kapal tempur untuk memberikan serangan torpedo.

Salah satu taktik paling kontroversi dari Jepang adalah taktik out-of range yang digunakan oleh Jepang. Dalam taktik ini, armada Jepang akan menyerang musuh dalam jarak 37.000 yard dari armada musuh. Menurut mereka, armada Jepang bisa mendeteksi musuh pada jarak 44.000 yard dan mulai menyerang pada jarak 37.000 yard dengan akurasi 12% pada serangan jarak 35.000 yard dengan bantuan pesawat pengintai. Dalam garis besar strategi, Sentai 1 dan Sentai 2 menjadi kekuatan utama Jepang dalam pertempuran musuh dengan strategi line-ahead dan memulai penyerangan pada jarak 38.000 yard. Lalu setelah tugas mereka selesai, armada depan bertugas mebukakan jalan bagi serangan torpedo secara masif ke armada musuh. Setelah serangan torpedo selesai, maka Sentai 1 dan Sentai 2  akan memberikan serangan akhir pada jarak 21.000-24.000 yard dengan formasi paralel. Cara seperti ini belum pernah teruji dalam pelatihan (Stille, The Imperial Japanese Navy in the Pacific War, 2014, hal. 16-17).

i.        Pengembangan kekuatan Udara Angkatan Laut Jepang

Sejak Perang Dunia 1, kekuatan udara menjadi salah satu kekuatan yang mulai diperhitungkan. Pada tahun 1920, Angkatan Laut Jepang meminta asistensi kepada Inggris untuk membangun kekuatan udara mereka. Inggris kemudian mengirimkan misi penerbangan yang dipimpin oleh Sir William Francis Forbes Sempill yang tiba di Stasiun udara Angkatan Laut di Kasumigaura pada November 1921. Dari misi ini, Inggris memperkenalkan berbagai senjata dan perlengkapan dirgantara seperti bom, torpedo, senapan mesin, dan alat komunikasi (David C. Evans, 1997, hal. 299-302).

Untuk produksi pesawat dilakukan oleh industri swasta seperti Mitsubishi, Kawanishi, Nakajima, dan Aichi. Badan riset Jepang menggunakan sistem sayembara untuk perusahaan swasta untuk mengirimkan desain pesawat perang mereka dengan menimbang pada kriteria yang diberikan oleh badan riset. Pemenang akan dikontrak untuk produksi pesawat berdasarkan desain mereka. Mitsubishi yang mendapat tim desainer Inggris segera mengamankan kontrak dan memproduksi pesawat serbu, pembom, dan pesawat tempur bagi kapal induk Hoshou yang hampir selesai pada tahun 1920-an. Aichi yang bekerjasama dengan Heinkel dari Jerman memproduksi pesawat pembom tukik. Nakajima yang memilih mempekerjakan pekerja lokal dibanding dengan tim dari luar negeri memproduksi pesawat kelas unggul untuk Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Kawanishi sendiri mendesain dan dikontrak untuk memproduksi pesawat amfibi (David C. Evans, 1997, hal. 302).

Tahun 1936, Persenjataan Udara Angkatan Laut atau Kaigun Kokusho didirikan di Yokosuka yang kemudian menjadi pusat pengembangan kekuatan udara Angkatan Laut Jepang. Tahun 1920-1930-an, Jepang sudah memiliki pesawat tempur yang bagus. Namun pada akhirnya pesawat tempur Jepang sudah terbilang usang, terutama dengan kemunculan pesawat serang berbasis darat yang superior di kecepatan dan jarak tempuh. Oleh karena itu, bagian pengembangan kekuatan udara mengadakan sayembara kembali pada tahun 1934 dengan kriteria pesawat yang ringan, cepat, dan mudah dikendalikan. Ditambah dengan ketentuan khusus yaitu harus memiliki kokpit yang nyaman untuk visibilitas, kecepatan rendah saat pendaratan, dan berdimensi kecil, mengingat pesawat ini berbasis pada kapal induk dengan landasan pacu terbatas dan sistem penyimpanan dengan elevator. Pemenang sayembara adalah perusahaan Mitsubishi dengan desainnya yang dikenal dengan pesawat A5M Tipe 96 “Claude” dengan bahan metal, satu kokpit, mesin bertenaga 500 tenaga kuda, dan senapan mesin 7,7 mm. Saat demonstrasi dapat mencapai ketinggian 5000 meter dalam waktu kurang dari 6 menit dan dengan kecepatan maksimal 243 knot (David C. Evans, 1997, hal. 305).

Setelah kemunculan A5M, Jepang masih kurang puas dengan laporan dari pilot mereka bahwa mereka masih memerlukan pesawat yang lebih kuat dari A5M. Oleh karena itu, Departemen penerbangan Angkatan Laut kembali membuka sayembara yang cukup terbilang tidak masuk akal dengan ketentuan mampu membawa senjata yang seharusnya dibawa oleh pesawat yang lebih besar dan berat namun kecepatan dan manuverbilitas yang hanya bisa dilakukan oleh pesawat kecil dan ringan dan juga mesin pesawat harus ringan namun bertenaga besar. Hal tersebut dapat diwujudkan oleh Horikoshi Jiro dan timnya dari Mitsubishi dengan desain A6M Tipe 0 Zeke atau lebih dikenal sebagai Mitsubishi Zero, dengan kecepatan maksimal 288 knot dan jarak tempuh 1000 mil. Pesawat ini menunjukkan performa cukup mumpuni dalam perang Sino-Jepang dan Perang Pasifik sampai ada pesawat Amerika Serikat yang lebih mumpuni (David C. Evans, 1997, hal. 305-307).

Jepang juga mengembangkan pesawat pembom tukik dan torpedo. Untuk pesawat torpedo, ada Nakajima B5N Tipe 97 Kate yang mampu menjalankan tiga peran, yaitu sebagai pesawat torpedo, pembom, dan pengintai. Kate mampu membawa 800 kg torpedo atau bom dengan kecepatan maksimal 200 knot. Pesawat ini menunjukkan performa cemerlang di China dan Pearl Harbor. Untuk pesawat pembom tukik ada Aichi D3A Tipe 99 Val. Diproduksi oleh Aichi dengan model pesawat produk Heinkel. Walaupun dari segi spesifikasi pesawat ini terbilang inferior, pesawat ini menunjukkan performa cemerlang pada Perang Dunia 2 (David C. Evans, 1997, hal. 307).

j.        Pengembangan kapal induk Jepang

Pada masa awal kapal induk, para desainer sempat mendapat masalah dengan diberlakukannya Traktat Angkatan Laut Washington yang membatasi maksimal tonase untuk kapal induk sebesar 27.000 ton. Hal ini disebabkan karena kapal induk membutuhkan dek landasan pacu yang panjang, pusat kontrol pesawat, hangar, tempat bahan bakar pesawat, tempat penyimpanan amunisi, dan tempat perawatan. Walau akhirnya dengan permintaan Jepang dan Amerika Serikat yang saat itu sedang mengubah kapal penjelajah tempur mereka menjadi kapal induk, batas maksimal tonase dinaikkan menjadi 33.000 ton (David C. Evans, 1997, hal. 314).

Kapal induk pertama Jepang, Hoshou, memiliki panjang dek hanya 552 kaki dengan tonase kurang dari 8000 ton. Hoshou hanya mampu membawa 20 pesawat, yang terdiri dari pesawat pembom, pesawat tempur, dan pesawat pengintai. Dalam Perang Dunia 2 sendiri Hoshou hanya membawa pesawat tempur dan terbatas untuk pelatihan pilot dan pertahanan garis belakang. Namun kapal ini menjadi dasar bagi pengembangan kapal induk Jepang kedepannya (David C. Evans, 1997, hal. 315).

Pada tahun 1920-an, muncul kapal induk hasil konversi sebagai imbas dari Traktat Angkatan Laut Washington, yaitu Akagi dan Kaga. Dengan model dek bertingkat dan meriam 8 inchi pada dek tingkat pertama. Bersamaan dengan itu, 150 pesawat diproduksi untuk Akagi dan Kaga. Tahun 1930-an, Akagi dan Kaga dimodifikasi dengan menambahkan anjungan di bagian atas dek dan mengurangi meriam 8 inchi milik Kaga serta menghilangkan dek bagian tengah menjadi satu dek landasan pacu di atas. Hal ini berdampak pada jumlah maksimal pesawat yang diangkut yang semula hanya 60 pesawat lalu bertambah menjadi 90 pesawat. Selain itu, elevator pesawat ditambahkan sehingga menjadi 3 elevator (David C. Evans, 1997, hal. 315).

Setelah munculnya Akagi dan Kaga, Angkatan Laut ingin menambahkan kapal induk lagi dengan bobot kurang dari 10.000 ton sebagai dampak dari traktat. Akagi dan Kaga sendiri berbobot 54.000 dan 81.000 ton. Sebagai hasilnya, muncul kapal induk Ryujou yang hanya memiliki 1 hanggar dan hampir tanpa pelindung baja. Karena dirasa terlalu kecil, Ryujou akhirnya ditambahi 1 hangar yang menambah bobotnya menjadi 12.000 ton dan membuatnya kurang stabil. Namun pada tahun 1934-1936, Ryujou menjalani modifikasi sehingga menjadikannya lebih stabil (David C. Evans, 1997, hal. 318).

Dari pembangunan Ryujou, Angkatan Laut kembali merencankan pembangunan kapal kelas Souryuu. Sebelumnya, kapal kelas ini direncanakan akan dibangun sebagai kapal gabungan antara kapal penjelajah dan kapal induk, mengingat keterikatan Jepang dengan traktat. Namun akhirnya pada tahun 1932, Jepang yang melihat celah untuk keluar dari traktat menjadikan kapal kelas ini menjadi kapal induk murni. Souryuu selesai pada tahun 1936 dengan double deck hangar dan kapasitas pesawat maksimal 68 buah dengan bobot 16.000 ton. Dengan cerobong di sisi kanan kapal bagian tengah dan anjungan di bagian sisi kanan kapal atas dek landasan pacu. Saudari Souryuu, Hiryuu, mulai dibangun tahun 1936, sekitar 6 bulan setelah Souryuu diluncurkan. Dengan modifikasi pada desainnya dikarenakan insiden yang menimpa armada keempat di tengah badai yang berimbas pada patahnya lambung kapal. Anjungan Hiryuu sendiri ada di sisi kiri dan memiliki kapasitas pesawat maksimal 73 buah (David C. Evans, 1997, hal. 318).

Dengan lepasnya Jepang dari traktat pada Desember 1936, Jepang sekarang berambisi untuk membangun kapal induk dengan spesifikasi tinggi untuk menandingi Amerika Serikat. Dari sini, mucul kapal induk kelas Shoukaku yang terdiri dari kapal induk Shoukaku dan Zuikaku dalam program maru san keikaku. Kapal kelas ini dibangun dengan spesifikasi dari Angkatan Laut yaitu memiliki daya tampung sama seperti Akagi dan Kaga setelah modifikasi (96 buah), kecepatan sama dengan Souryuu (maksimal 35 knot), dan jarak tempuh yang besar (10.000 mil dalam kecepatan 18 knot). Berat kapal induk kelas Shoukaku 10.000 ton lebih berat dari kelas Souryuu, dengan tenaga 160.000 tenaga kuda, 10.000 kali dari kapal kelas Yamato. Masing-masing membawa 27 pesawat pembom tukik, 27 pesawat torpedo, 18 pesawat tempur, dan 12 pesawat cadangan. Total ada 84 pesawat pada masing-masing kapal. Kapal kelas ini menujukkan performa yang bagus dalam Perang Pasifik sebelum akhirnya muncul kapal induk kelas Essex milik Amerika Serikat (David C. Evans, 1997, hal. 319).

Mulai pada Perang Pasifik pada Desember 1941, Jepang mulai membangun kapal induk super seperti Shinano dan Taihou. Taihou dibangun berdasarkan program maru yo keikaku (Anonim, 1964, hal. 51). Mulai dibangun pada tahun 1941, Taihou adalah kapal induk Jepang yang pertama kali didesain dengan pelindung dek landasan pacu. Shinano sendiri didesain sebagai kapal ketiga dari kapal tempur kelas Yamato, namun diubah menjadi kapal induk setelah kekalahan Jepang di Midway dengan kehilangan 4 kapal induk sekaligus. Keduanya menjadi kapal induk terbesar milik Jepang dan digadang menjadi kapal induk dengan performa yang mumpuni, namun keduanya hanya berumur pendek di tangan kapal selam Amerika Serikat (David C. Evans, 1997, hal. 319).

Selain yang disebutkan di atas, Jepang juga membangun “Armada bayangan” kapal induk hasil konversi dari kapal bantu maupun kapal dagang. Bekerjasama dengan perusahaan Nippon Yusen Kaisha, Jepang mendesain kapal penumpang yang akan mudah diubah menjadi kapal induk sebagai langkah “curang” untuk mengakali traktat London. Sebagai hasilnya, dua kapal tender untuk kapal selam, Tsurugizaki dan Takasaki diubah menjadi kapal induk ringan Shohou dan Zuihou (Anonim, 1964, hal. 29). Dilanjutkan dengan program lainnya dengan pengubahan 2 kapal menjadi kapal induk pada tahun 1941 dan 9 kapal lainnya selama perang. Namun kapasitas yang kecil, kecepatan lambat, dan perlindungan yang minim membuat mereka tidak efektif (David C. Evans, 1997, hal. 319-323).

Di awal perang, Jepang kembali membangun 6 kapal induk sebagai tambahan kekuatan mereka di Perang Pasifik. Kapal induk kelas Unryuu ini didesain dengan spesifikasi antara kelas Hiryuu dan Shoukaku. Dari 6 kapal yang dibangun, hanya 3 yang selesai, yaitu Unryuu, Amagi, dan Katsuragi. Sedangkan sisanya, Kasagi, Ikoma, dan Aso, hanya selesai setengah jalan sebelum akhirnya dibatalkan. Kapal kelas ini memiliki kapasitas maksimal 63 pesawat dan memiliki kecepatan maksimal 33-34 knot. Untuk persenjataan, hampir sama dengan kapal induk kelas Souryuu (Stille, 2005, hal. 37).

Dalam mendesain dan menggunakan kapal induk, Jepang dan Amerika Serikat setidaknya memiliki tiga perbedaan. Yang pertama mengenai fungsi hangar. Bagi Jepang, fungsi hangar adalah untuk penyimpanan, perawatan, dan perbaikan pesawat sekaligus. Namun bagi Amerika Serikat, hangar hanya biasa digunakan untuk perawatan dan perbaikan pesawat, mereka biasa memarkir pesawat di atas dek. Yang kedua adalah hangar kapal induk Jepang dekat gudang, sehingga pesawat dan kru dapat terlindung dari cuaca. Namun ketika serangan bom menembus dek, kerusakan yang diterima akan sangat parah mengingat di hangar dan gudang penyimpanan banyak barang mudah terbakar. Hal ini menimpa pada Hiryuu dan Souryuu pada pertempuran Midway. Yang ketiga adalah operasional penerbangan. Bagi Jepang, dek harus bersih dari pesawat lain ketika hendak menerbangkan pesawat. Berbeda dengan Amerika Serikat yang biasa memarkir pesawat di atas dek, sehingga mampu membagi tempat untuk parkir pesawat dan penerbangan. Hal ini berimbas pada waktu untuk persiapan penerbangan. Saat kondisi mendesak, waktu yang diperlukan Jepang cukup lama, sehingga membuat mereka terbuka bagi serangan udara. Hal ini menimpa Akagi dan Kaga di pertempuran Midway (David C. Evans, 1997, hal. 323-324).

k.      Doktrin kapal induk Jepang

Bagi Jepang, tugas dari kapal induk adalah sebagai pengintai, pemberi bantuan sebagai anti-kapal selam, dan pesawat tempur sebagai penjaga dari serangan pesawat musuh. Perkembangan teknologi dan doktrin mengubah peran mereka yang semula defensif menjadi ofensif. Pesawat kapal induk dikerahkan untuk melumpuhkan armada musuh, terutama kapal induk lawan, dengan pesawat Jepang yang memiliki jarak tempuh besar. Kapal induk Jepang sendiri tergabung dalam satu armada Kido Butai dengan dibagi 3 divisi dengan satu divisi berisi 2 kapal induk pada awal Perang Pasifik (Stille, 2014, hal. 15-16).

Belum ada Komentar untuk "Doktrin Angkatan Laut Jepang Pasca Tsushima"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel